Pengikut

Sabtu, 09 Juni 2012

DIAGRAM TERNER


DIAGRAM TERNER

I.    TUJUAN 
? Dapat mengetahui dan menentukan kelarutan suatu Zat dalam suatu Zat pelarut
? Dapat menggambarkan phase diagram tiga komponen
? Dapat mengaplikasikan dalam menentukan komposisi kadar minyak pengering dalam cat

II.   PERINCIAN KERJA
? Pengumpulan data percobaan
? Memeriksa kebenaran data
? Perhitungan dari data percobaan

III. ALAT yang DIPAKAI
? Labu erlenmeyer 50 ml 6 buah
? Erlenmeyer 100 ml       8 buah
? Buret makro 25 ml       3 buah
? Corong pemisah            1 buah
? Statif dan penjepit buret 4 buah
? Penjepit cincin               1 buah

IV.  BAHAN yang DIGUNAKAN
? Asam Asetat glasial
? Kloroform
? Larutan standar NaOH
? Indikator PP dan Aquadest
V.   TEORI
                Sistem tiga komponen aturan phase menghasilkan V = 5 – p. Bila terdapat suatu phase, maka V = 4, oleh karenanya penggambaran secara geometrik yang lenglap memerlukan ruang berdimensi empat. Bila tekanan tetap, ruang tiga dimensi dapat digunakan. Bila baik suhu maupun tekanan tetap, maka  V = 3 – p dan sistem dapat digambarkan dalam ruang dua dimensi : p = 1  V = 2. bivarian, p = 2, V=1, univarian : p = 3, V = 0, invarian
                Suatu sistem tiga komponen mempunyai dua perubah komposisi yang bebas, sebut saja X2 dan x3. jadi komposisi suatu sistem tiga komponen dapat dilarutkan dalam koordinat cartes dengan X2 pada salah satu sumbunya dan X3 pada sumbu yang lain yang dibatasi oleh garis X2 + X3 = 1, karena X itu tidak simetris terhadap ketiga komponen, biasanya komposisi dialurkan pada suatu segitiga sama sisi dengan tiap-tiap sudutnya menggambarkan suatu komponen murni. Bagi suatu segitiga sama sisi, jumlah jarak dari seberang titik didalam segitiga ketiga sisinya sama dengan tinggi segitiga tersebut. Jarak antara tiap sudut ketengah-tengah sisi yang berhadapan  dibagi100 bagian sesuai dengan komposisi dalam prosen. Untuk memperoleh suatu titik tertentu dengan mengukur jarak terdekat ke tiga sisi segitiga. Zat cair yang hanya sebagian larut dalam Zat cair lainnya, dapat dinaikkan kelarutannya dengan menambahkan suatu Zat cair yang berlainan dengan kedua Zat cair yang lebih dahulu dicampurkan . bila  Zat cair yang ketiga ini hanya larut dalam salah satu Zat cair
yang terdahulu maka biasanya kelarutan dari kedua Zat cair yang terdahulu itu akan menjadi lebih kecil. Tetapi bila Zat cair yang ketiga itu larut dalam kedua Zat cair yang terdahulu akan menjadi lebih besar. Gejala ini dapat terlihat pada sistem khloroform asam asetat air. Bila asam asetat ditambahkan kedalam suatu campuran heterogen dari khloroform dan air pada suhu tertentu, kelarutan dari khloroform dalam air itu akan bertambah, sehingga pada suatu ketika akan menjadi homogen. Jumlah asam asetat yang harus ditambahkan untuk mencapai titik homogen (pada suhu tertentu tadi), tergantung dari komposisi campuran khloroform dan air.
Gejala serupa akan terjadi bils sir ditambahkan kedalam campuran kholoroform dan asam asetat yang homogen, karena saling melarut. Pada penambahan jumlah air tertentu campuran yang tadinya homogen, akan menjadi heterogen, tergantung dari komposisi khloroform – asam asetat.

Diagram tiga sudut
Diagram tiga sudut atau diagram segitiga berbentuk segitiga sama sisi dimana sudut-sudutnya ditempati oleh komponen Zat. Sisinya – sisinya itu terbagi dalam ukuran yang menyatakan bagian 100% zat yang berada pada setiap sudutnya. Untuk menentukan letak titik dalam diagram segitiga yang menggambarkan jumlH Kdar dari masing-masing komponen, dilakukan sebagai berikut :
Pada salah satu sisinya ditentukan dua titik yang menggambarkan jumlah kadar Zat dari masing-masing Zat yang menduduki sudut pada kedua ujung sisi itu. Dari dua titik ini ditarik garis yang sejajar dengan sisi yang dihadapinya. Titik dimana dua garis itu menyilang, menggambarkan jumlah kadar masing-masing.
Contoh : tentukanlah titik yang menggambarkan jumlah kadar masing-masing komponen dari campuran 15,1% khlroform, 50. 2% asam asetat dan 34,7% air dalam segitiga
Pada sisi khloroform asam asetat ditentukan titik 15,1 kadar khloroform dan titik 50,2% (kadar asam asetat). Dari titik 15,1  ditarik garis yang sejajar dengan sisi asam asetat air dan dari titik 50,2 ditarik sejajar dengan khloroform air. Titik silang dari kedua garis iniyaitu titik x menunjukkan jumlah kadar masing- masing kimponen campuran khloroform- asam asetat- air.
Contoh yang lain : titik O menyatakan komposisi 50% berat asam asetat, 10% berat vinil asetat dan 40% berat air campuran tersebut dua pasang sama sekali dapat bercampur dan satu pasang cairan sama sekali tidak dapat bercampur, diagram yang diperoleh adalah sebagai berikut

Bila air ditambahkan ke vinil asetat sepanjang garis BC, air mula-mula akan larut, dan terbentuk suatu larutan yang homogen. Namun begitu air ditambahkan, terjadi keadaan jenuh pada komposisi X, dan akan terjadi dua phase cair yaitu vini lasetat yang jenuh dengan air dan sedikit air yang jenuh oleh vini lasetat, yang komposisi Z tidak berasosiasi, asosiasi terjadi karena terbentuknya ikatan – ikatan hidrogen.


VI. KESELAMATAN KERJA
Untuk menjaga dan melindungi anggota badan terhadap percikan bahan kimia digunakan jas praktikum dan kaca mata pelindung. Karena asam asetat yang digunakan cukup pekat percobaan dapat dilakukan dilemari asam. Jika ada masker digunakan cukup pekat percobaan dapat dilakukan dilemari asam. Jika ada masker gunakan masker karena asam asetat cukup berbau dan spesifik. Bahan buangan dibuang pada tempat penbuangan bahan kimia organik.

VII.   LANGKAH-LANGKAH KERJA
? Dimasukkan 2 gram khloroform dan 18 gram asam asetat glasial kedalam erlenmeyer dengan menggunakan timbangan analitik sebagai alat pengukurnya (diperoleh campuran 10% berat berat khloroform dalam asetat glasial)
? Dititrasi secara perlahan-lahan dengan air sampai permulaan timbulnya kekeruhan
? Dicatat berapa banyak air yang digunakan untuk menitrasi.
? Diulangi prosedur kerja diatas dengan menggunakan konsenterasi khloroform 20 ; 30 ; 40 ; 50 ; 60 ; 70 dan 80%  (w/w).

Melakukan pemisahan larutan
? Dimasukkan campuran cloroform dengan asam asetat dengan perbandingan 50 : 50
? Dikocok corong pemisah yang campuran dengan baik dan benar, kemudian dibiarkan campuran cairan tersebut beberapa saat agar terbentuk dua lapisan cair
? Dipisahkan masing-masing lapisan cairan kedalam dua buah erlenmeyer 100 ml yang telah diketahui masing-masing beratnya ( ekstrak dan rafinatnya )
? Kemudian dilakukan penimbangan berat ekstrak dan rafinat.
? Masing-masing larutan dititrasi dengan larutan standar NaOH setelah dilakukan penambahan indikator phenolphatalin










VIII.   DATA PENGAMATAN
Pasam asetat     = 1,05 g/ml
Pkloroform        = 1,48 g/ml
Pair                       = 1 g/ml
sampel
Asam asetat (ml)
Kloroform (ml)
Air (ml)
I
18
2
25,2
II
14
6
7,3
III
12
8
5
IV
8
12
2,2
V
6
14
1,3
VI
2
18
1,5

Perbandingan Kloroform dan Asam Asetat  50% : 50%  
? NaOH untuk ekstrak          =  15,8 ml
? B.Erlenmeyer kosong        =  73,5748 ml
? B. Erlenmeyer + ekstrak    =  84,6434 ml

? NaOH untuk Rafinat          =  9 ml
? B.Erlenmeyer kosong        =  73,5472 ml
? B. Erlenmeyer + Rafinat    =  90,5477 ml
? NaOH yang dipergunakan 5 M
IX.     PERHITUNGAN
A.   Penentuan %berat masing-masing sampel
Penentuan massa masing-masing asam asetat (Pasam asetat          = 1,05 g/ml)
Bj =                                  Massa  =  Bj  x  ml

Ø  Sampel I
Massa    =  1,05 x  18 ml  =  18,9 gr

Ø  Sampel II
Massa    =  1,05  x  14 ml  =  14,7 gr

Ø  Sampel III
Massa    =  1,05  x  12 ml  =  12,6 gr

Ø  Sampel IV
Massa    =  1,05  x  8 ml  =  8,4 gr

Ø  Sampel V
Massa    =  1,05  x  6 ml  =  6,3 gr

Ø  Sampel VI
Massa    =  1,05  x  2 ml  =  2,1 gr

Penentuan massa masing-masing kloroform (Pkloroform               = 1,48 g/ml)
Bj =                                  Massa  =  Bj  x  ml

Ø  Sampel I
Massa    =  1,48 x  2 ml  =  2,96 gr
Ø  Sampel II
Massa    =  1,48 x  6 ml  =  8,88 gr
Ø  Sampel III
Massa    =  1,48 x  8 ml  =  11,84 gr
Ø  Sampel IV
Massa    =  1,48 x  12 ml  =  17,76 gr
Ø  Sampel V
Massa    =  1,48 x  14 ml  =  20,72 gr
Ø  Sampel VI
Massa    =  1,48 x  18 ml  =  26,64 gr




Kurva kesetimbangan (diagram tiga fase)
% Berat   komponen A  = 

Ø  Sampel I
% Berat CHCl3         =     x  100%   =  6,29 % = 6%
            % Berat CH3COOH =     x  100%   = 40,16 %= 40%
            % Berat H2O             =     x  100%   =  53,55%= 54 %

Ø  Sampel II
% Berat CHCl3         =     x  100%   =  28,75 % =29 %
% Berat CH3COOH =     x  100%   =  47,60% = 47 %
% Berat H2O             =     x  100%   =  23,65 %= 24 %

Ø  Sampel III
      % Berat CHCl3         =     x  100%   =  40,22%= 40 %
      % Berat CH3COOH =     x  100%   =  42,80 % = 43%
      % Berat H2O             =     x  100%   =  16,98 % = 17%







Ø  Sampel IV
% Berat CHCl3         =     x  100%   =  62,62% = 62%
% Berat CH3COOH =     x  100%   = 29,62 % =30%
% Berat H2O             =     x  100%   =  7,76 % = 8%

Ø  Sampel V
% Berat CHCl3         =     x  100%   =  72,65% =73 %
% Berat CH3COOH =     x  100%   =  22,09% = 22%
% Berat H2O             =     x  100%   =  5,26 % =5%

Ø  Sampel VI
      % Berat CHCl3         =     x  100%   =  88,68 % = 89%
      % Berat CH3COOH =     x  100%   =  6,99 % =7 %
      % Berat H2O             =     x  100%   =  4,33 % = 4%


B.    Penentuan % berat untuk ekstrak dan raffinat
CH3COOH +  NaOH                                   CH3COONa   +  H2O  

? Untuk Ekstrak
Mol NaOH          =  M  x  L
                      =  5    x  15,8 ml  x 
                      = 0,079 Mol

0,079Mol NaOH   »  0,079 Mol CH3COOH

Massa CH3COOH       =  0,079Mol  x  60
                                            =  4,74 gr
 Massa Ekstrak= (massa Erlenmeyer + ekstrak ) – massa Erlenmeyer kosong
                                      = 84,6434 g – 73,5748 g
                                      = 11,0686 g
% Massa CH3COOH   =   x 100%
                                      =  x 100% 
                                      =  42%


? Untuk Raffinat
Mol NaOH          =  M  x  L
                      =  5    x  9 ml  x 
                      = 0,045 Mol

0,045 Mol NaOH   »  0,045 Mol CH3COOH

Massa CH3COOH       =  0,045 Mol  x  60
                                            =  2,7 gr
Massa Raffinat = (massa Erlenmeyer+raffinat)- massa Erlenmeyer kosong
                                      = 90,5477 g – 73,5472 g
                                      = 17,0005 g
% Massa CH3COOH   =   x 100%
                                      =  x 100% 
                                      =  16 %






X.     PEMBAHASAN HASIL PERCOBAAN
? Metode pemisahan yang dipakai untuk praktikum kali ini ialah metode ekstraksi dimana 2 buah campuran homogen diekstrak dengan menngunakan pelarut yang dapat bereaksi dengan salah satu komponen, dalam hal ini asam asetat, sebagaimana kita ketahui bahwa zat ini dapat larut didalam air, akan tetapi sebaliknya dengan kloroform tidak terjadi reaksi dengan air.
? Hal ini dapat kita buktikan dengan mengacu kepada hasil percobaan, dimana apabila jumlah asam asetatnya banyak maka penitrasi air akan semakin banyak pula dipakai, begitu pula sebaliknya, pada sampel I jumlah air yang digunakan paling banyak karena asam asetatnya ada 18 ml, dan pada sampel VI. Air yang digunakan paling sedikit karena hanya terdapat 2 ml asam asetat.
? Cara menentukan titik yang menggambarkan jumlah kadar masing-masing komponen dari campuran 6% kloroform,40% asam asetat, dan 54% air dalam digram tiga sudut yaitu pada sisi khloroform asam asetat ditentukan titik 6% kadar khloroform dan titik 40% (kadar asam asetat). Dari titik 6%  ditarik garis yang sejajar dengan sisi asam asetat air dan dari titik 40% ditarik sejajar dengan khloroform air. Pada titik tersebut menunjukkan jumlah kadar masing- masing komponen campuran khloroform- asam asetat- air.



? Diagram tiga sudutnya seperti berikut :






























XI.    KESIMPULAN
? Setelah melakukan percobaan ini dapat disimpulkan bahwa untuk T-Line Raffinatnya adalah 15,88 % sedangkan untuk Ekstraknya  42,46 %

XII.   PERTANYAAN
  1. Bagaimana caranya untuk memperoleh kurva perubahan  kelarutan terhadap temperatur
  2. Apa yang dimaksud dengan phase diagram tiga komponen
  3. Bagaimana cara menentukan tie line

JAWABAN PERTANYAAN
? Dengan menghitung komponen pada tiap sampel dimana jumlah keseluruhan tiga komponen ini harus 100 %, dimana setiap gram yang akan dicari harus kita ketahui terlebih dahulu suhu pada saat itu (suhu pada saat terjadi reaksi) lalu dihubungkan dengan BJ nya untuk mendapatkan gram masing-masing sampel.
? Diagram tiga komponen adalah diagram tiga sudut yang berbentuk segitiga sama sisi, dimana sudut-sudutnya ditempati oleh komponen zat. Sisinya itu terbagi dalam ukuran yang menyatakan bagian 100 % zat yang berada pada setiap sudutnya
? T-Line ditentukan dengan menarik garis lurus antara % Berat Raffinat dengan        % Berat Ekstrak.

XIII.   DAFTAR PUSTAKA
? Findlay s Practical Physical Chenistry Daniels, Cs (terjemahan)                      

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar